Spiga


Apakah organisasi mahasiswa tidak diminati lagi?

Oleh: Lazaro Legina*

Mahasiswa dan Organisasi

Seperti yang telah kita ketahui, mahasiswa mempunyai banyak peran di masyarakat. Pengasahan intelektual dan kepemimpinan dalam kampus adalah hal yang tidak terpisahkan dari seorang mahasiswa. Hal itu tentunya didapat bukan hanya dari bangku perkuliahan saja. Ruang-ruang untuk berkreasi dan mengembangkan kreatifitas terbentang luas di luar bangku perkuliahan. Maka kehidupan mahasiswa dan organisasi tidak pernah bisa dipisahkan. Karena Organisasi adalah tempat untuk mengembangkan dan mengasah kemampuan intelektual dan kepemimpinan mahasiswa.

Organisasi mahasiswa yang ada di kampus sangatlah beragam. Masing-masing mempunyai orientasi dan arah tujuannya sendiri. Tentunya hanya organisasi yang mempunyai komitmen yang keras dan perjuangan untuk selalu bergerak itulah yang membuat besar suatu organisasi. Suatu organisasi tidak akan pernah menjadi besar dan dikenal, ketika tidak ada aktivitas gerak dari mahasiswa dalam menjalankan sebuah roda organisasi. Organisasi mahasiswa seperti apa yang dapat meningkatkan dan mengasah kemampuan intelektualitas aggotanya? Yah tentu jelas, bukan organisasi yang melahirkan anggotanya untuk menjadi pengikut (pengikut birokrat atau senior dan melanjutkan tradisi-tradisi yang terdahulu dimana tidak dituntut kreatifitas sesuai dengan kondisi dan momentum yang sedang terjadi) karena sudah begitu banyak organisasi mahasiswa yang hanya dijadikan tunggangan dan pelaksana teknis kegiatan saja. Mahasiswa membutuhkan organisasi yang orientasi geraknya ke perbaikan dan pengembangan intelektualitas anggotanya. Tentunya perjuangan dan geraknya akan lebih mengalami hambatan dan tantangan, karena anggotanya memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk dirinya saja, melainkan tanggung jawab organisasi, anggota dan ideologi yang harus dilaksanakan.

Kondisi Organisasi kampus
Gelombang hedonitas dahsyat menerpa organisasi mahasiswa. Persaingan gerakan mahasiswa sudah tidak lagi meriah. Mahasiswa cenderung berorientasi kepada kesenangan yang kurang membangun daya intelektualnya. Kecenderungan mahasiswa untuk apatis kepada organisasi ini sudah terjadi. Banyak organisasi-organisasi pergerakan yang berjuang untuk mengasah intelektual dan kreativitas sudah tidak lagi diminati. Padahal ketika berbicara perihal mahasiswa maka yang terbesit adalah kemampuan kepemimpinan dan pola berfikir yang tinggi. Kritis, progresif dan revolusioner menjadi identitas lain dari mahasiswa. Ini jadi aneh, kebanyakan mahasiswa sudah tidak mengerti akan isu-isu yang terdekat yang menimpa dirinya sendiri. Mahasiswa yang ada, kebanyakan kurang tanggap akan permasalahan yang terjadi. Walaupun sudah jelas kelihatan permasalahan sosial di depan mereka. Sungguh ironis, ketika sikap-sikap seperti ini melekat pada diri seorang mahasiswa. Yang terjadi adalah jargon-jargon mahasiswa (Agen of change, Social control, Iron Stock, dll) hanya menjadi wacana dan mimpi yang utopis.

Menjadi seorang mahasiswa tidaklah mudah, banyak hal-hal yang harus dipikirkan selain berfikir tentang diri sendiri. Harusnya mahasiswa mempunyai daya kritis untuk mendektesi permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi. Dia tidak buta akan permasalahan sosial, akan selalu tanggap dalam mengawal pemerintah dalam mengambil kebijakan yang pro terhadap rakyat, bukan pemodal. Mari mahasiswa, kita harus sadar. Mari bersama-sama untuk memikirkan nasib bangsa ini demi kemaslahatan umat menuju masyarakat yang madani, bukan malah menjadi alih orientasi ke materi dan kekuasaan belaka.

*Penulis adalah MPO Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa UPI (Leppim UPI), salah seorang Koordinator FKUKM UPI Bidang Penalaran.

1 komentar:

  Anonim

22 April 2009 pukul 22.35

Hemm bagus tulisannya mas...